Tampilkan postingan dengan label Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sukses. Tampilkan semua postingan
Senin, 10 April 2017
Sukses Jualan Camilan Kacang
Adalah Farid Hidayah (31 tahun) sukses menjalani bisnis camilan kacang karena melihat bisnis serupa yang ditekuni orangtuanya. Awal mulanya Farid menjualkan produk kacang oven dan kacang bawang buatan ibunya. Farid mengawalinya sebagai bisnis sampingan tanpa modal, semenjak berada di bangku kuliah bersama rekan yang kini menjadi suaminya, Dwi Saputro.
Ketika itu dengan status sebagai mahasiswa, Farid mengalami kendala dalam membagi waktu. Namun hal itu justru membuatnya semakin pandai mengatur waktu. Begitu pula saat ia masih mengajar selepas lulus kuliah. Meski pendidikannya tak berkaitan dengan bisnis camilan, Farid mengaku optimis kendala dapat teratasi. Tahun 2010, Farid pun coba memproduksi camilan kacang sendiri.
Bisnis camilan yang dibuat Farid terdiri dari berbagai produk makanan kecil berbahan kacang-kacangan; seperti kacang bangkok, kacang bawang, dan sebagainya. Untuk menarik konsumen, Farid memberikan harga terjangkau mulai Rp 4000,- hingga Rp 120.000,-. Motto usahanya adalah kualitas terbaik dengan harga relatif murah.
Selama satu bulan ia bisa memproduksi camilan sekitar 1 ton, sedangkan saat mendekati bulan puasa bisa mencapai 8 ton. Penghasilannya mencapai angka 70 juta rupiah setiap bulannya. Bahkan ketika menjelang lebaran meningkat 5 kali lipat yakni sekitar 400 juta rupiah dalam sebulan.
Farid memberdayakan enam orang karyawan. Meski memproduksi dalam jumlah besar, ia tak pernah menyimpan bahan baku karena kuatir mutunya akan menurun. Ia membeli bahan baku sesuai kebutuhan dan pesanan, terutama kacang bangkok, cabe, dan bawang merah/putih).
Ketika ditanya mengenai motivasinya untuk tetap menjalankan bisnis camilan ini, Farid mengaku ingin meningkatkan taraf hidup keluarganya dan mensejahterakan orang-orang di sekitarnya. Menurut Farid, keberhasilan seorang pengusaha adalah saat dapat hidup mandiri dan bisa memberikan lapangan pekerjaan untuk masyarakat di sekitarnya.
Farid berbagi kunci suksesnya dalam mengelola bisnis. Yakni selalu optimis, bekerja keras, berdoa, dan tekun beribadah pada Allah SWT. Jangan ragu memulai bisnis, jangan takut gagal karena kegagalan merupakan salah satu langkah menuju sukses!
*(Disadur dari http://bisnisukm.com)
Senin, 06 Maret 2017
Sukses Berjualan Abon Jamur
Salah satu makanan yang disukai orang adalah abon. Mengapa? Karena abon cukup bergizi dan tahan disimpan dalam waktu yang lama. Biasanya cara penyajian abon ditabur di atas nasi, bubur, mi instan, atau menjadi bahan isian lemper. Para pembuat roti dan kue juga berinovasi untuk menjadikan abon sebagai toping. Tidak hanya itu, abon juga tidak ada salahnya dinikmati secara langsung seperti halnya mengudap camilan.
Selama ini orang-orang mengenal bahan baku abon adalah daging, semisal daging ayam, daging sapi, atau ikan. Sekarang ternyata abon juga bisa dibuat dari bahan nabati yang kandungan proteinnya cukup tinggi, misalnya jamur. Sang kreator abon berbahan jamur di Indonesia adalah pemegang merek "Ailani".
Bisnis abon jamur sangat menguntungkan. Ada beberapa pertimbangan yang menentukan antara lain; pola hidup sehat mulai dipilih masyarakat. Mereka cenderung memilih makanan berserat, contohnya jamur.
Pemilik "AilaniFood", Ahmad Nasution, sangat optimis produknya akan digemari masyarakat. Ia merasakan dari waktu ke waktu, permintaan abon jamur terus meningkat. Dan nilai ekonomisnya pun ada. Usaha abon jamur tidak perlu modal banyak. Bisa memanfaatkan peralatan dapur yang sudah dimiliki.
Abon jamur mempunyai tekstur berserat mirip dengan serat daging apabila diolah dengan bagus dan benar. Cita rasanya gurih dan sedap. Semua usia boleh mengonsumsinya, dari bayi umur 6 bulan sampai lanjut usia.
Hal senada juga diutarakan Kusni, pembuat abon jamur merek "Medales 16". Kusni menambahkan bahwa permintaan abon jamur terus dicari konsumen karena mereka tak suka makan daging atau ikan.
Bahan baku melimpah
Harga bahan baku abon jamur relatif murah dibanding daging dan mudah diperoleh. Pembuat abon jamur tidak kuatir karena pasokan bahan baku lebih dari cukup karena budidaya jamur tiram mudah dijumpai.
Produsen abon jamur "Ailani" mengisahkan, awal mula ia berbisnis olahan jamur tiram. Beberapa tahun yang lalu, saudaranya yang membudidayakan jamur tiram kesulitan menjual hasil panen, padahal jamur tidak tahan lama. Akhirnya ia mencoba mengolah jamur tiram menjadi makanan yang tahan lama. Setelah berkali-kali mencoba, ia memutuskan membuat abon jamur pada tahun 2010.
Ide membuat abon jamur sebenarnya dari sang ibu, Rahlani, yang memberi usulan agar jamur digiling. Dan hasilnya adalah abon yang berserat. Maka sebagai penghormatan, saya beri merek "Ailani" yang merupakan singkatan Abon Ibu Rahlani.
Ahmad memulai usaha dengan modal Rp 10 juta. Ketika itu hanya mampu menghasilkan 6 kg –10 kg abon jamur per hari. Sekarang ia dibantu delapan karyawan untuk memproduksi abon jamur sebanyak 40 kg – 60 kg per hari.
Ailani Food memiliki delapan varian abon jamur yakni original, pedas, balado, barbeque, keju, jagung bakar, vegan original dan vegan pedas. Harganya dipatok Rp 22.000 per bungkus. Wilayah pemasaran sudah menjangkau Pulau Jawa, Bali, beberapa kota di Pulau Sumatra dan Kalimantan.
Ailani Food menjual produknya melalui sistem offline dan online. Untuk offline, mereka mendistribusikannya langsung ke toko-toko, supermarket, dan pasar modern lainnya. Penjualan via online memanfaatkan jejaring sosial media dan situs www.ailanifood.com.
Ailani Food menjamin abon racikannya tidak mengandung unsur hewani, rendah kolesterol, dan bebas bahan pengawet. Hal ini penting karena yang mengkonsumsi bukan hanya masyarakat umum melainkan kelompok masyarakat vegetarian yang sadar betul mengenai pola hidup sehat.
Bagaimana, apakah Anda juga berminat menjajal usaha abon jamur?
*Disadur dari www.kontan.co.id
Senin, 20 Februari 2017
Meraih Sukses dengan Menekuni Berjualan Tempe
Di kota Yogyakarta, pengusaha yang menggeluti bisnis tempe, konon ribuan jumlahnya. Namun Viska Syahrul memproduksi tempe yang diberi label Super Dangsul tampil beda dari yang lainnya. Berkat strategi pemasaran dan proses pembuatan yang khas, tempe Super Dangsul sangat laku di pasaran.
Pada 23 Maret 1998, Viska Syahrul bersama Yuri Kurniasih, istrinya, membangun usaha tempe Super Dangsul di Wiyoro Kidul, Baturetno, Banguntapan, Bantul. Ia memulainya ketika krisis moneter berdampak pada usaha cor aluminium yang ditekuninya sejak SMA tidak bisa beroperasi lagi karena ongkos produksi yang sangat tinggi tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.
Viska memutar otak dan pilihan jatuh pada bisnis di bidang makanan. Alasannya sederhana dan sangat masuk akal. Manusia pasti selalu butuh makan setiap hari. Dan kota Yogyakarta yang selalu diramaikan oleh para pelajar dan mahasiswa dari luar kota bahkan luar pulau adalah tempat yang ideal untuk menjual makanan.
Pada awalnya, Viska menjual tempe yang dibuat oleh kerabatnya. Setelah berjualan selama lebih kurang enam bulan, ia memutuskan untuk mempekerjakan seseorang dan ia pun berjualan di pasar lain.
Viska merasa kurang puas kalau hanya berjualan tempe di pasar saja, maka ia mengembangkan strategi pemasaran. Ia menawarkan tempe buatannya langsung ke warung-warung. Bermula dari sini, ia mendapatkan ide untuk membuka peluang usaha bagi orang lain dengan sistem persen, yakni memberikan 10% dari hasil penjualan tempe ke sales yang berhasil menjual produknya.
Untuk meningkatkan produksi, Viska memproduksi tempe sendiri. Ia pun meluangkan waktu sekitar tiga bulan untuk mempraktikkan pembuatan tempe. Pada masa ini Viska akhirnya menemukan komposisi yang pas sehingga melahirkan tempe yang berkualitas dengan warna yang kuning kecoklatan saat digoreng.
Tempe Super Dangsul diklaim Viska rasanya gurih tanpa bahan kimia serta pengawet. Pelangggannya kebanyakan warung makan dan restoran yang berada di seputaran Jogja, Bantul, dan Sleman. Permintaannya luar biasa, lebih dari 1.000 tempat makan. Kalau mau membeli eceran di pasar, hanya ada empat pasar besar yang menjual tempe Super Dangsul, yakni Pasar Sentul, Prawirotaman, Gedongkuning, dan Kranggan.
Viska Syahrul dan istrinya tak pernah mengira bahwa usaha yang dimulai dari 20 kilogram kedelai untuk dijadikan tempe itu sekarang menjadi 1,2 ton per hari. Penghasilan yang diperolehnya pun terbilang besar, yakni Rp 12 juta per hari.
*Disadur dari sumber http://www.solopos.com
Minggu, 19 Februari 2017
Meraih Sukses dengan Jualan Daging dari Tempe
Benarlah kata orang-orang bijaksana bahwa di balik kesulitan ada hikmah yang bermanfaat bagi manusia. Ketika harga daging sapi di dalam negeri yang semakin membumbung, ternyata menjadi peluang bagi sebagian orang untuk mengambil keuntungan. Adalah Muhammad Hidayat yang menciptakan daging dari bahan nabati.
Ia menyatakan bahwa daging dari bahan nabati tersebut rasanya seperti daging sapi padahal dibuat dari tempe. Produk itu murni dari tempe dengan diberi beberapa bumbu pelengkap. Proses pembuatannya sederhana, tempe diberi bumbu lantas dihancurkan atau digiling.
Hidayat memulai usaha ini sejak 2013. Idenya muncul saat itu saya berminat pada bisnis kuliner yang tampil spesial, modern, dan ekonomis. Harga daging sapi di Makassar waktu itu cukup mahal, yaitu Rp 95.000/kg. Saya berpikir bagaimana membuat daging sehat dan bermanfaat dalam jangka panjang.
Akhirnya terpikir coba-coba mengolah tempe. Merasa uji cobanya harus mendapatkan penilaian dari masyarakat luas, Hidayat membuka usaha kebab dan burger di Makassar, sebagai cara mempromosikan daging nabati miliknya. Hasilnya sungguh memuaskan.
Kemudian Hidayat memberanikan diri menjual produk olahannya tersebut dengan harga Rp 2.000/pcs. Mantan reseller baju itu mampu meraih penjualan senilai Rp 50 juta/bulan.
*disadur dari finance.detik.com
Jumat, 17 Februari 2017
Meraih Sukses dengan Jualan Buku Via Online
Salah satu syarat untuk berwirausaha adalah jeli melihat peluang. Arief Mai Rakhman adalah sosok wirausahawan yang memanfaatkan tren hiruk-pikuk jual-beli barang secara online. Ia mampu bertahan menjual buku secara online untuk anak kuliah.
Ia memberi alasan kenapa menjual buku kuliahan? Karena buku kuliah adalah pasar yang sangat menjanjikan, terutama yang bertema metode penelitian.
Usahanya ini bermula pada tahun 2011. Bersama temannya, Arief mendirikan Delta Buku. Ketika itu ia hanya membantu mencari buku-buku yang akan dijualnya melaui Facebook. Namun karena penanganan yang kurang serius berimbas pada penjualan yang tidak optimal. Terlebih setelah sang teman pulang kampung.
Tahun 2012, Arief dipercaya mengelolanya. Sebelum berbisnis buku ini, Arief beberapa kali kurang beruntung dalam berwirausaha. Akhirnya Arief bertekad untuk konsentrasi berjualan buku secara online. Harapannya sederhana, ia ingin memberikan manfaat bagi masyarakat.
Untuk memperoleh buku dengan harga lebih murah, ia bekerjasama dengan beberapa penerbit, distributor atau agen, dan toko buku. Dari sinilah ia mendapat diskon khusus. Kebetulan ia juga tinggal di Yogyakarta yang dijuluki sebagai kota pelajar. Kota ini memberikan akses yang luas untuk mendapatkan buku-buku kuliah dan sejenisnya, sehingga kebutuhan para pembelinya dapat dipenuhi.
Untuk memasarkan bukunya, Arief bergabung dengan marketplace Bukalapak.com. Ketertarikannya pada situs ini karena setiap kali mencari produk jualan di Google yang muncul selalu Bukalapak di halaman satu dan peringkat teratas. Sebelumnya Arief berjualan melalui Facebook, Twitter, Instagram, dan iklan baris.
Menurut pengakuan Arief, sejak bergabung dengan Bukalapak, usahanya berkembang pesat. Toko online yang bertitel Beta Buku telah mengunggah lebih dari 4000 judul buku. Maka Arief dinobatkan menjadi salah satu top seller. Angka transaksi per harinya berkisar 15-20 transaksi dengan omzet sekitar Rp 60 juta per bulan.
Meski buku elektronik atau ebook banyak dijual secara online, Arief tetap optimis kalau bisnis jualan buku fisik secara online masih diminati. Orang-orang masih terbiasa membaca buku secara fisik karena lebih nyaman dan mudah dibawa kemana-mana.
Arief membuka rahasia suksesnya, yaitu memberikan pelayanan terbaik. Mulai dari pengiriman, ketersediaan buku, judul buku yang beragam, sampai menawarkan harga yang bersaing karena ia rela mengambil untung sedikit.
*Disadur dari http://bisnis.liputan6.com
Meraih Sukses dengan Jualan Kue Kering
Liche Lidiawati bersyukur mempunyai ibu yang suka memasak. Kegemaran ibunya ini menular dalam dirinya sehingga dunia masak-memasak pun tak asing bagi Liche. Ia merasa menyukai memasak sejak duduk di bangku SMA. Semenjak Liche mempunyai anak, ia rajin membuat kue kering.
Awalnya mengkreasikan sereal coco crunch yang disukai anak-anak menjadi kue kering. Ia mengaku tak pernah mengikuti les membuat kue karena yang diajarkan ibunya sudah lebih dari cukup.
Kabar menggembirakan pun datang. Ternyata kue kering bikinannya juga disukai teman-teman kerjanya. Maka Liche mencoba menjual kue kering secara terbatas dengan harga Rp 5.000 per stoples. Ketika pesanan semakin bertambah, dia mengambil asisten rumah tangga untuk membantunya.
Rasa kue kering buatan Liche yang gurih dan enak pun mendapat tempat di hati konsumen. Pesanan semakin banyak. Rupanya para konsumen yang cocok dengan cita rasa kue kering Liche, menganjurkan kepada rekan-rekannya untuk membelinya.
Saat harga bahan kue naik karena krisis moneter, Liche bermaksud mengurangi produksi. Namun sungguh diluar perkiraannya, meski harga naik, konsumen justru banyak membeli kue kering buatannya menjelang Lebaran. Liche pun sadar, Hari Raya adalah waktu yang potensial untuk penjualan kue kering.
Untuk memberikan pilihan rasa sesuai keinginan konsumen, Liche berinovasi menambah aneka rasa kue kering buatannya. Buah-buahan, kacang hijau, dan cokelat menjadi pilihan bahan bakunya. Setidaknya saat ini ada 100 varian kue kering berhasil diciptakan.
6 tahun berlalu sejak merintis usahanya pada tahun 1996. Bisnis Liche tumbuh subur, jumlah karyawan meningkat, produksi semakin berlimpah. Pada tahun 2002, Liche pun membangun pabrik seluas 600 meter persegi dengan mempekerjakan karyawan berjumlah sekitar 80 orang.
Pada tahun 2009, kue keringnya diberi label "Yorya" yang merupakan kependekan dari nama ketiga anaknya. Label tersebut sekaligus dipatenkan sebagai merek usaha.
Selama menjalani bisnis ini, Liche mengakui bahwa usaha kue kering adalah usaha musiman. Penjualan akan mengalami peningkatan yang tajam ketika Lebaran dan Natal. Liche bisa menjual hingga 9.000 lusin stoples pada bulan menjelang Lebaran. Pada perayaan Natal biasanya Liche menerima pesanan sekitar 2.000 lusin. Kalau pada waktu biasa, 50 lusin stoples kue kering yang dapat terjual. Omzet penjualan per tahun diperkirakan sekitar Rp 4 miliar.
Sang anak turut membantu membuatkan website Yorya Cookies. Dan sejak ada situs tersebut, agen kue Yorya meluas dari Aceh hingga Papua. Ada 3 paket keagenan yang disediakan bagi yang tertarik menjadi agen Yorya, yakni Silver, Gold, dan Platinum. Sebelumnya, tidak ada syarat apapun jika ingin jadi agen kue Yorya.
Saat ini terdaftar kurang lebih 200 agen. Harga jual kue Yorya untuk agen adalah berkisar antara Rp 47.500 – Rp 52.500 per stoples. Adapun harga jual untuk eceran seharga Rp 70.000 – Rp 75.000 per stoples.
*Disadur dari http://bisniskeuangan.kompas.com
Rabu, 15 Februari 2017
Meraih Sukses dengan Usaha Sablon
Setiap orang pasti mengenal usaha sablon. Hampir setiap kota di Indonesia terdapat orang-orang yang berwirausaha di bidang ini. Biasanya usaha sablon selalu berhubungan dengan konveksi. Menjamurnya distro busana merupakan salah satu lahan potensial yang menopang usaha sablon terus berkibar.
Distro busana biasanya menyediakan pernak-pernik kebutuhan generasi muda yang ingin tampil beda. Sebutlah kaos, jaket, kemeja, topi, sepatu, tas, dan lain-lain. Semua barang tersebut umumnya menampilkan produk sablon bercita rasa kekinian, bisa berupa gambar atau teks. Tak berlebihan kalau ada yang menyimpulkan, selama masih ada generasi muda maka usaha sablon masih menjanjikan.
Jika biasanya usaha sablon ditekuni oleh laki-laki, maka Wahyuni F Herawati adalah pengecualian. Wanita ini sukses mengantongi omset sebesar Rp 70 juta dalam sebulan, dan bisa meningkat sampai ratusan juta pada musim pilkada. Pelayanan yang bagus dan memberikan hasil sablon yang berkualitas adalah rahasianya.
Ditempa oleh kegagalan
Lulusan IPB Bogor ini sebelumnya pernah membuka usaha angkringan. Suatu ketika ada razia, ia harus merelakan barang dagangannya dan digusur oleh satpol PP karena berjualan di tempat yang memang dilarang untuk berjualan.
Wahyuni pun pernah mencoba usaha lain yaitu membeli beberapa produk unik dan kreatif di pasar kulakan Senin Jakarta yang kemudian dijual lagi. Namun jarak Jakarta dan rumahnya yang berada di Bogor cukup jauh serta selisih keuntungan yang sedikit membuat usaha ini tidak begitu lama usianya.
Merintis Usaha
Suatu ketika ada pelatihan Diklat sablon yang diadakan di kota Bandung. Wahyuni punya ide untuk menekuni usaha sablon. Kebetulan sang suami Reza Rifyal Akbar sedang menganggur sehingga dapat mengikuti pelatihan tersebut.
Seusai mengikuti pelatihan, Wahyuni dan suaminya bertekad membuka usaha sablon. Bermodalkan Rp 300 ribu Wahyuni merintis usaha Sablon Bogor pada 14 Agustus 2012. Modal tersebut untuk membuat brosur promosi usahanya. Sedangkan untuk pengadaan bahan-bahan sablon, Wahyuni menjalin kerjasama dengan para pengusaha sablon.
Pada awalnya, Wahyuni boleh dikata cuma sebagai perantara. Kalau ada pesanan, ia langsung lempar ke pengusaha sablon yang sudah cukup ternama di Bandung.
Menjemput pesanan
Seiring perjalanan waktu, masyarakat mulai mengenal Sablon Bogor. Sekarang Wahyuni sudah mampu mengerjakan sendiri pesanan yang datang. Selain sablon, Wahyuni pun menerima jasa konveksi lainnya seperti pembuatan kemeja, seragam batik, swetter, celana training, seminar kit, dan masih banyak lagi.
Wahyuni punya kiat untuk menentukan harga. Ia tidak berpedoman pada katalog, namun menyesuaikan anggaran pelanggan. Ia ingin memberikan solusi tanpa harus mengurangi kualitas dan hasil produksi.
Sablon Bogor tidak hanya menerima pesanan langsung namun juga bisa dilakukan dengan cara online. Dengan kirim email kemudian konfirmasi ke customer service maka barang sudah bisa dikerjakan. Biasanya ia menetapkan DP sebesar 50% dengan transfer pembayaran melalui rekening, dan barang akan dikirim ke alamat setelah pesanan selesai dikerjakan.
Promosi Usaha
Wahyuni menyadari bahwa meski prospek usahanya tetap bagus namun agar usaha tetap eksis dan dikenal banyak orang maka ia rajin berpromosi di sosial media. Ia juga menjaga hubungan baik dengan konsumen yang pernah mencoba jasa konveksi milikinya. Ia beranggapan jika konsumen puas, maka mereka ingin membuat produk lagi pasti akan kembali ke kita, dan bisa jadi merekomendasikan ke orang lain.
*disadur dari http://ideusahabisnis.com
Senin, 13 Februari 2017
Sukses Berbisnis Kerupuk
Tahun 1992, Nurati bersama suami bikin usaha kerupuk ikan dan udang. Beliau tinggal di Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu. Ketika itu Nurati bantuan satu ton tepung tapioka sebagai bahan utama membuat kerupuk.
Dengan peralatan seadanya, mereka mulai bekerja membuat adonan kerupuk. Dibantu anggota keluarga, Nurati bersama suaminya mulai memasarkan hasil usahanya ke beberapa warung di Desa Kenanga dan sekitarnya.
Nurati mengakui, pada awalnya merasa kesulitan memasarkan produksi usahanya karena di desanya sudah banyak yang membuka usaha serupa yakni usaha kerupuk. Tentu pengusaha lain yang sudah lama berkecimpung telah memiliki permodalan yang cukup besar. Sementara Nurati tidak bermodal uang sama sekali.
Namun hal itu tidak membuat Nurati patah semangat. Ia dengan tekun mengelola bisnis kecil-kecilan ini. Konsumen mulai menggemari hasil produksinya. Seiring semakin banyaknya pesanan, dia semakin bersemangat berbisnis kerupuk yang digelutinya ini.
Perlahan tapi pasti, usahanya mampu memberikan harapan bagi keluarganya. Perekonomian keluarga makin membaik. Setelah mampu bertahan, Nurati memberanikan diri untuk menambah modal usaha pada dua tahun berikutnya.
Kepada kerabatnya, Nurati meminjam uang sebesar Rp25 juta. Ia berkeyakinan dengan suntikan modal tersebut akan membuat usaha kerupuknya semakin maju. Dulu produksinya hanya satu ton per hari. Kini bertambah menjadi 2 ton dan mempekerjakan hingga 40 karyawan.
Nurati memberi label kerupuk hasil produksinya dengan nama perusahaan kerupuk Cap Dua Mawar. Produksinya sekarang berhasil merambah pasar ke luar daerah. Salah satu daerah yang menjadi langganannya adalah Kota Surabaya Jawa Timur.
Meski sempat mengalami pasang surut usaha, namun kerupuk Cap Dua Mawar tetap mampu bertahan. Nurati mengakui, semakin tingginya pesanan kerupuk dalam beberapa tahun terakhir, karena dia selalu menjaga kualitas hasil produksi.
Nurati pantang untuk mengurangi takaran bumbu- bumbu serta racikan ikan dan udang. Pasalnya, akan berpengaruh pada cita rasa kerupuk. Pelanggan rasanya tidak akan mempersoalkan harga, yang penting cita rasa tetap terjamin.
Pada tahun 2007, Nurati mengembangkan usaha dengan meningkatkan alat-alat pembuat kerupuk dan tempat menyimpan kerupuk yang bisa menampung 2 ton adonan kerupuk. Selama ini Nurati kesulitan mencari tempat yang paling nyaman.
Pada tahun 2008, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menawari Nurati kredit usaha kecil menengah (UKM). Dia mendapatkan persetujuan kredit Rp1 miliar. Uang tersebut digunakan untuk menambah gudang penyimpanan kerupuk dan peremajaan alat pembuat kerupuk.
Dengan sarana yang memadai, usaha pembuatan kerupuk Cap Dua Mawar semakin optimal dan mampu menghasilkan kerupuk yang bermutu semakin baik. Omset penjualan pun terus merangkak naik.
Cita rasa kerupuk yang variatif juga menjadi rencana jangka panjangnya dalam menggeluti usaha ini. Alasannya sederhana bahwa selera orang tentu berbeda-beda, agar pelanggan mempunyai pilihan sesuai seleranya maka dibuatlah kerupuk aneka rasa.
sumber: economy.okezone.com
Selasa, 24 Januari 2017
Empat Penulis Indonesia yang Sukses di Jalur Menulis
Menurut survei yang dilakukan Gramedia-Kompas, ada empat penulis Indonesia yang berhasil mengumpulkan pendapatan miliaran rupiah dari hasil
karya mereka. Semoga kesuksesan mereka menjadi inspirasi bagi
penulis-penulis lain.
1.
Andrea Hirata
Karyanya, novel Laskar Pelangi yang
diterbitkan pada 2005 itu telah dicetak berulang- ulang dan saat ini tak kurang
dari 600.000 eksemplar telah dijual dengan total keuntungan Rp3,6 miliar.
Pendapatan tersebut belum termasuk hasil dari karya-karya
lainnya, yaitu Sang Pemimpi dan Maryamah Karpov, serta bonus tambahan dari
karyanya yang difilmkan.
Andrea Hirata pernah menerima penghargaan kategori sastra Indonesia pada Internationale Tourismus Borse (ITB) Buch Award 2013 di Berlin. Buku Laskar Pelangi menjadi salah satu acuan penilaiannya. Laskar Pelangi
dinilai layak karena memaparkan kisah berlatar lokal.
2.
Habiburrahman El Shirazy
Karya-karyanya selalu dinanti para pencinta buku. Sebagian besar karya Habiburrahman yang berupa novel berada di rak-rak buku best seller di
semua toko buku di Tanah Air.
Di antara karyanya yang paling fenomenal adalah Ayat-
Ayat Cinta yang diterbitkan tahun 2004 oleh Penerbit Basmala dan Republika.
Novel ini telah mengalami cetak ulang puluhan kali hingga menembus angka
penjualan tertinggi 400.000 eksemplar. Begitu tingginya animo pembaca, novel
ini bahkan tidak hanya dicetak ulang, tapi juga dibuat versi filmnya dan
ditonton oleh 3,5 juta orang.
Karya-karya lainnya yang juga laris adalah Di Atas
Sajadah Cinta ( 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona
Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (
2007) Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta (2010), dan The Romance.
Berkat novel-novelnya tersebut, pria jebolan
Universitas Al- Azhar, Kairo, Mesir ini sebagai penulis terkaya kedua di
Indonesia dengan Rp 2,4 miliar.
3.
Mira Widjaya
Penulis lulusan Fakultas Kedokteran Universitas
Trisakti tahun 1979 ini telah menghasilkan puluhan karya, utamanya roman. Tak
kurang dari 20 karya Mira menyentuh penjualan terbaik atau best seller. Dari
sekian banyak karyanya, yang paling fenomenal adalah Cinta Sepanjang Amazon
(2009).
Novel ini merupakan karya Mira yang ke-75 dan telah
dibuat versi layar lebarnya. Cinta Sepanjang Amazon sukses mengantar wanita
kelahiran Jakarta ini menjadi penulis terkaya dengan total pendapatan tak
kurang dari Rp2 miliar.
4.
Dewi Lestari
Akrab dipanggil dengan sapaan Dee ini berhasil menempati posisi keempat
sebagai penulis terkaya lewat karya Supernova. Novel pertama Dee yang
sensasional Supernova Satu: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh diterbitkan
Februari 2001. Novel ini laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual
sampai kurang lebih 75.000 eksemplar.
Sukses dengan novel pertamanya, Dee lalu meluncurkan
novel kedua, yaitu Supernova II: Akar, pada Oktober 2002. Novel ini sempat
mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Umat Hindu
menolak dicantumkannya lambang Omkara/- Aum yang merupakan aksara suci Brahman
Tuhan yang Maha Esa dalam Hindu sebagai kover dalam bukunya. Akhirnya, pada
cetakan kedua, lambang tersebut tidak ditampilkan lagi.
Pada Januari 2005 Supernova episode Petir diterbitkan.
Tiga tahun setelah Petir dirilis, Dee meluncurkan novel terbarunya Rectoverso
(2008) yang merupakan paduan fiksi dan musik. Buku Rectoverso terdiri atas 11
fiksi dan 11 lagu yang saling berhubungan.
Terima kasih telah menyempatkan diri untuk membaca artikel tentang "Empat Penulis Indonesia yang Sukses di Jalur Menulis" ini. Semoga bermanfaat bagi Anda.
Sumber: www.koran-sindo.com
Langganan:
Postingan (Atom)








